Selamat malam, readers!
Di malam yang sangat dingin ini saya ingin bercerita melalui tulisan ini.
Seperti yang sudah saya ceritakan pada post-post yang lalu, bahwa saya ingin menjadi seorang astronom. Sulit dimengerti mengapa dari sekian banyak profesi menjanjikan, saya malah memilih ingin menjadi seorang pengamat luar angkasa. Silahkan Anda menjudge saya seperti kebanyakan orang. Gila? Tidak berpikir kedepan? Omong kosong? Ya, kata-kata itulah yang keluar dari mulut mereka, orang-orang yang saya ceritakan tentang mimpi saya.
Sedih? Tentu. Bayangkan ketika kamu berbicara dengan antusiasnya tetapi tanggapan pendengar hanya "oh." atau "gila!" atau "Fa, kamu masih mau jadi itu?!". Tapi ada quote yang sangat inspiring bagi saya. Begini isinya:
Mimpi besar adalah mimpi yang apabila orang mendengarnya, mereka tertawa dan mengejek kamu atas ituMemang begitulah tantangan untuk pemimpi-pemimpi besar. Hanya segelintir orang percaya kamu bisa meraih/mewujudkannya, atau bahkan tak ada satupun yang percaya dengan apa yang kamu yakini.
Ingat cerita Ikal dalam tetralogi Laskar Pelangi? Siapa yang percaya, seorang anak pedalaman dan miskin, kelak bisa menjelajahi dunia dan menjadi orang yang sangat menginsipirasi orang lain? Saat itu, hanya sedikit orang yang percaya! Tapi kepercayaan pada diri sendiri untuk bisa merealisasikannya adalah kunci untuk bisa menggapai mimpi-mimpi itu, dan benar, mimpi itu terwujud. Nyata. Jelas. Hidup!
Keluarga saya menyarankan saya untuk menjadi seorang dokter. Tetapi saya tidak memiliki ketertarikan pada bidang itu. Dan jujur saja, sudah banyak sekali dokter di Indonesia. Saya sudah berkali-kali mengatakan bahwa saya ingin menjadi seorang astronom, tapi respon yang saya dapat selalu saja buruk. Bahkan ada yang mengatakan saya orang gila.
Ada satu argumen dari kakak saya mengenai profesi ini: "Mau jadi apa nanti? Jadi pengangguran?!"
Dan saya sudah menemukan jawabannya, sangat ilmiah, begini jawaban saya: "Menurut data Wall Street Journal, tidak ada lulusan astronomi yang menganggur alias 0,0%."
Dan apa respon kakak saya?
Sangat buruk, meskipun saya sudah menyanggah argumennya dengan data yang sangat akurat.
Begini dia bilang: "Kamu ngerti apa sih tentang hidup? Kamu masih kecil!"
Keluarga tentunya ingin yang terbaik untuk kita, tak diragukan. Tapi hei, it's my life, it's your life. Kamu punya hak untuk memilih ingin berlabuh kemana. Karena kamu yang menjalani, kamu yang menikmati, bukan mereka.
Kuliah jangan diorientasikan dengan uang yang akan didapatkan setelah meraih gelar, tapi pikirkan seberapa besar ilmu yang kamu dapatkan. Karena satu keyakinan saya, jika sudah memiliki ilmu, rezeki yang akan datang pada kita, tanpa perlu bersusah-payah mencarinya.
Ah ya readers, banyak orang juga mengatakan astronomi tidak begitu memiliki manfaat. Saya sangat mengecam pernyataan itu. Setiap ilmu memiliki manfaat! Well, mungkin benar manfaat astronomi dibandingkan ilmu kedokteran misalnya, lebih kecil bagi manusia. Karena manusia cenderung melihat segala sesuatu yang lebih menguntungkan bagi dirinya dan kelompoknya, tidak untuk objek alam yang lain.
Sebelum melanjutkan, tentunya kalian masih ingat dengan quote ini:
Hidup jangan untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain.Saya setuju dengan quote itu! Memang begitulah hidup, kita bukan hidup seorang diri di dunia ini, tapi kita hidup juga dengan orang lain. Tapi 'orang lain' bagi saya bukan hanya untuk manusia, tapi keseluruhan jagat raya ini. Manusia bukanlah satu-satunya makhluk hidup, ada tanaman dan ada hewan yang juga merupakan ciptaan Tuhan. Dan coba pikir, untuk apa Tuhan menciptakan bintang dan benda-benda langit lainnya bila tidak untuk dipelajari? Kita mempelajari sesuatu agar kita tau bahwa kekuasaan Tuhan tiada tandingannya!
Bahkan di Al-Quran, pada surath Sad ayat 27, disebutkan bahwa:
Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia. Itu anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang yang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.
See? Bahkan dalam Islam kedudukan astronomi sangat penting, tidak kalah penting dengan ilmu kedokteran dan ilmu lainnya. Karena ingat, hakikatnya setiap ilmu adalah penting.
Menurut saya, astronomi mengajari kita makna kerendahan hati. Karena setiap mempelajari angkasa, kita sadar bahwa kita hanya butiran debu, tak sepantasnya untuk sombong dengan apa yang kita miliki. Astronomi adalah ilmu alam yang mengajari tentang kehidupan.
Guys, ketika saya menjadi astronom kelak, saya tidak akan egois hanya hidup untuk diri saya. Saya ingin menjadi seorang pengajar, saya ingin menjadi dosen di ITB. Saya juga ingin tetap menulis, saya ingin menjadi jurnalis pada jurnal ilmiah.
InsyaAllah, jika saya masuk ITB 2015, saya akan belajar dengan baik di sana. Kemudian melanjutan studi di Jepang atau di Inggris. Setelah itu saya mulai bekerja sebagai pengajar dan penulis, serta pengamat kehidupan.
Itulah mimpi saya. Mimpi yang saya ukir di dalam sanubari. Berharap suatu hari, janji ini bisa terealisasi. Aamiin.
Sekian cerita dari saya :D Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Trims!
3 comments:
Assalamu'alaikum.. manusia "pemimpi"..perjuangakan mimpimu..^_^.
Menjadi manusia "pemimpi" yang Khairunnas anfa'uhum linnas..
Semangaat yaa..!!
saat menemukan kawan baru (spesies manusia "pemimpi") sama seperti makan es grem di gurun hehehe... ;p.
Salam kenal dari surabaya.. ^_^.
seratus juta jempol buat anda yang notabene sama seperti keadaan saya saat ini. jujur, artikel anda menginspirasi saya untuk terus maju............
Aku ketemu postingan ini pas lagi googling prospek kerja tamatan astronomi karena tbh sekarang aku bener2 lagi di posisi kaka saat kaka nulis postingan ini, cuma bedanya ortuku nyuruh aku masuk teknik.. Anyways, setelah baca postingan ini rasanya kaya ketemu soulmate (hmm i'm talking too much) XD. Aku pengen ngobrol dengan kaka deh. You're cool, srsly. :3
Makasih banyak untuk postingannya, kak. :)
Post a Comment